Wuih, hari ini bener-bener indah banget. Nggak ada perasaan gelisah ’tuk jalani hari-hariku. Mungkin nggak yach, hari ini akan sama dengan hari esok? Dan apakah kebahagiaan ini ’kan berakhir disini?
”Bagus, nglamun terus?”tanya Sisi. ”Apa’an sich, aku khan lagi mikirin sesuatu. Oh yach, lain kali jangan ganggu orang yang lagi keenakan mikir. Ancur dech, anganku.”kataku. ”Emang kamu lagi mikirin dia? Ngapa’in kamu nglamunin dia terus. Jelas-jelas dia itu ngak tertarik sama kamu. Eh.... kamunya nekat.”tambahnya. ”Emang nggak boleh yach, aku bebas khan untuk tertarik dengan siapa aja. Dia juga belum ada tanda-tanda kalo dia udah punya cewek.”jelasku.
Saat ini aku memang baru merasakan mahliga indahnya cinta. Yang selalu terombang-ambing dengan kesesakan dan kelegaan hati ini. Walaupun dia tak ’kan pernah mengerti bagaimana perasaanku yang sesungguhnya.
Andai saja, kau tahu segalanya yang ada di lubuk hati ini. Semuanya pasti ’tak akan begini. Dan dengan begitu, aku dapat jujur dengan perasaan ini. Tak akan ada lagi kata untuk bersandiwara. Karena aku sudah capek dengan semua ini.
”Sisi, kenapa kalo orang lagi dimabuk asmara, semua dapat dilakukan tanpa malu?”tanyaku. ”Ri, kamu pernah dengar nggak, kalo cinta itu dapat membuat buta segala sesuatu. Itu’lah yang sedang kamu alami. Kamu selalu berharap agar dia mau mengerti perasaanmu, tapi dia nggak akan nyadar, kalo kamu itu berharap banget. Kamu selalu bela-bela’in dia. Tanpa memperdulikan perasaan kamu yang terus terluka karena dia.”jelasnya.
Memang, aku lebih sering untuk terluka. Karena aku selalu ingin membuatnya bahagia. Dan saat ini aku lebih memilih dia, dari pada diriku. Aku lebih memilih perasaan ini terluka tanpanya, dari pada aku harus merelakannya, tetapi aku bahagia. Kenapa yach, aku ingin selalu ’tuk berada di dekatnya?
* * *
Tapi, denger-denger dia sudah punya cewek. Pupus sudah harapan ini. Ternyata, selama ini aku sia-sia telah mencintainya. Seharusnya aku tak boleh membuka hati ini. Biarlah ini tetap berjalan. Karena aku tetap akan menyanyangimu, walau kamu bukan milikku lagi.
Waktu pelajaran Fisika, Sisi aneh banget. Dan aku nggak tahu penyebabnya. ”Si, dari tadi kamu aneh banget. ’Mang ada masalah?”tanyaku. ”Ri, kamu ngerasa aneh nggak?”kata Sisi. ”Ah, apa’an sich? Nggak ’tuh, kurang kerja’an banget.”kataku.
Emang kenapa yach? Perasaan biasa-biasa aja. Tapi bener juga yach, kayaknya perasaanku juga lagi nggak enak. Tapi..... dalam hati ini aku merasakan ketenangan.
Tiba-tiba bola mata saling tertuju. Jantung ini berdetak dengan sangat kencang. Kurasakan sesuatu yang tak pernah bisa kurasakan pada orang lain. Andai saja, di bener-bener tahu, kalo aku sedang menantinya.
Ingin rasanya ’tuk mengungkapkan 3 kata padanya, ”I LOVE YOU”. Tapi aku tak akan berani ’tuk melakukannya. Pasti semua orang akan menertawakan aku. Apakah aku ini pantas ’tuk dia? Dan apakah dia juga pantas untuk kucintai? God, bila ada kesempatan, aku ’kan mengungkapkannya. Tapi............ dia sudah memiliki cinta sejati. Sedangkan aku? Aku harus menangis dalam kesedihan dan kepahitan ini.
Dan aku selalu bisa untuk memaafkanmu, bila kamu selalu menyakitiku. Tapi aku sudah tak tahan dengan semua ini. Dan terkadang, dalam kesesakan jiwa ini, tanpa terasa air mata yang indah ini, jatuh ’tuk mengharapkanmu. Mengharap sesuatu yang ’tak akan ada gunanya. Tapi, aku terus mencoba untuk tegar.
* * *
”Ri, sampai kapan kamu mau menantinya?”tanya Sisi. ”Sampai aku sudah merasa lelah dengan kenyataan hidup, aku sudah merasa sangat sakit dengan keadaan ini. Terlebih sampai aku benar-benar takut ’tuk mecintainya.”jelasku.
”Tapi, apakah kamu nggak akan takut, kalo dia nggak akan pernah untuk mengerti kamu?”tanyanya.”Buat apa dia mengerti perasaanku, klo dia tak bisa kudapatkan? Dan buat apa aku bisa mendapatkannya bila dia tak bisa mencintaiku seperti aku mencintainya? Semuanya nggak akan ada gunanya, Si. Sampai di bener-bener tahu bagaimana perasaanku ini.”jelasku.
* * *
Dan apakah aku harus jalani kisah cinta ini? Atau aku harus mundur? Aku memang harus memilih, memilih yang terbaik bagiku dan dia. Ternyata....... aku memang harus merelakannya. Walau hati ini sakit sekali. Tetapi aku masih bisa ’tuk mencintainya, walau dia bukan milikku lagi. Karena, cinta itu nggak harus selamanya memiliki. Aku akan bahagia kok, bila dia merasa bahagia. Aku akan sangat merasa bahagia bila, dia mau memahamiku.
Cinta itu, tak harus memiliki. Cinta itu ibarat bintang. Terkadang selalu memancarkan cahayanya yang indah dan terkadang tak bersinar. Tapi aku ingin menjadi orang yang dapat membuatnya bahagia, walaupun itu terasa menyakitkan. Dan ingin menjadi bintang yang selalu menemani bulan, walaupun aku tak kan mampu biaskan siar indahku dan dia tak akan lagi bersamaku. Pergi meninggalkan aku dalam kesesakan. Dan atas nama cinta aku akan selalu membuatmu bahagia. Karena cinta itu tak selamanya harus memiliki.