BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 29 Oktober 2011

WHEN I SAY THAT I LOVE YOU

            Wuih, hari ini bener-bener indah banget. Nggak ada perasaan gelisah ’tuk jalani hari-hariku. Mungkin nggak yach, hari ini akan sama dengan hari esok? Dan apakah kebahagiaan ini ’kan berakhir disini?
            ”Bagus, nglamun terus?”tanya Sisi. ”Apa’an sich, aku khan lagi mikirin sesuatu. Oh yach, lain kali jangan ganggu orang yang lagi keenakan mikir. Ancur dech, anganku.”kataku. ”Emang kamu lagi mikirin dia? Ngapa’in kamu nglamunin dia terus. Jelas-jelas dia itu ngak tertarik sama kamu. Eh.... kamunya nekat.”tambahnya. ”Emang nggak boleh yach, aku bebas khan untuk tertarik dengan siapa aja. Dia juga belum ada tanda-tanda kalo dia udah punya cewek.”jelasku.
            Saat ini aku memang baru merasakan mahliga indahnya cinta. Yang selalu terombang-ambing dengan kesesakan dan kelegaan hati ini. Walaupun dia tak ’kan pernah mengerti bagaimana perasaanku yang sesungguhnya.
Andai saja, kau tahu segalanya yang ada di lubuk hati ini. Semuanya pasti ’tak akan begini. Dan dengan begitu, aku dapat jujur dengan perasaan ini. Tak akan ada lagi kata untuk bersandiwara. Karena aku sudah capek dengan semua ini.
            ”Sisi, kenapa kalo orang lagi dimabuk asmara, semua dapat dilakukan tanpa malu?”tanyaku. ”Ri, kamu pernah dengar nggak, kalo cinta itu dapat membuat buta segala sesuatu. Itu’lah yang sedang kamu alami. Kamu selalu berharap agar dia mau mengerti perasaanmu, tapi dia nggak akan nyadar, kalo kamu itu berharap banget. Kamu selalu bela-bela’in dia. Tanpa memperdulikan perasaan kamu yang terus terluka  karena dia.”jelasnya.
            Memang, aku lebih sering untuk terluka. Karena aku selalu ingin membuatnya bahagia. Dan saat ini aku lebih memilih dia, dari pada diriku. Aku lebih memilih perasaan ini terluka tanpanya, dari pada aku harus merelakannya, tetapi aku bahagia. Kenapa yach, aku ingin selalu ’tuk berada di dekatnya?
            *                                                          *                                                          *
            Tapi, denger-denger dia sudah punya cewek.  Pupus sudah harapan ini. Ternyata, selama ini aku sia-sia telah mencintainya. Seharusnya aku tak boleh membuka hati ini. Biarlah ini tetap berjalan. Karena aku tetap akan menyanyangimu, walau kamu bukan milikku lagi.
            Waktu pelajaran Fisika, Sisi aneh banget. Dan aku nggak tahu penyebabnya. ”Si, dari tadi kamu aneh banget. ’Mang ada masalah?”tanyaku. ”Ri, kamu ngerasa aneh nggak?”kata Sisi. ”Ah, apa’an sich? Nggak ’tuh, kurang kerja’an banget.”kataku.
            Emang kenapa yach? Perasaan biasa-biasa aja. Tapi bener juga yach, kayaknya perasaanku juga lagi nggak enak. Tapi..... dalam hati ini aku merasakan ketenangan.
            Tiba-tiba bola mata saling tertuju. Jantung ini berdetak dengan sangat kencang. Kurasakan sesuatu yang tak pernah bisa kurasakan pada orang lain. Andai saja, di bener-bener tahu, kalo aku sedang menantinya.
            Ingin rasanya ’tuk mengungkapkan 3 kata padanya, ”I LOVE YOU”. Tapi aku tak akan berani ’tuk melakukannya. Pasti semua orang akan menertawakan aku. Apakah aku ini pantas ’tuk dia? Dan apakah dia juga pantas untuk kucintai? God, bila ada kesempatan, aku ’kan mengungkapkannya. Tapi............ dia sudah memiliki cinta sejati. Sedangkan aku? Aku harus menangis dalam kesedihan dan kepahitan ini.
            Dan aku selalu bisa untuk memaafkanmu, bila kamu selalu menyakitiku. Tapi aku sudah tak tahan dengan semua ini. Dan terkadang, dalam kesesakan jiwa ini, tanpa terasa air mata yang indah ini, jatuh ’tuk mengharapkanmu. Mengharap sesuatu yang ’tak akan ada gunanya. Tapi, aku terus mencoba untuk tegar.
            *                                                          *                                                          *
”Ri, sampai kapan kamu mau menantinya?”tanya Sisi. ”Sampai aku sudah merasa lelah dengan kenyataan hidup, aku sudah merasa sangat sakit dengan keadaan ini. Terlebih sampai aku benar-benar takut ’tuk mecintainya.”jelasku.
”Tapi, apakah kamu nggak akan takut, kalo dia nggak akan pernah untuk mengerti kamu?”tanyanya.”Buat apa dia mengerti perasaanku, klo dia tak bisa kudapatkan? Dan buat apa aku bisa mendapatkannya bila dia tak bisa mencintaiku seperti aku mencintainya? Semuanya nggak akan ada gunanya, Si. Sampai di bener-bener tahu bagaimana perasaanku ini.”jelasku.
*                                                          *                                                          *
Dan apakah aku harus jalani kisah cinta ini? Atau aku harus mundur? Aku memang harus memilih, memilih yang terbaik bagiku dan dia. Ternyata....... aku memang harus merelakannya. Walau hati ini sakit sekali. Tetapi aku masih bisa ’tuk mencintainya, walau dia bukan milikku lagi. Karena, cinta itu nggak harus selamanya memiliki. Aku akan bahagia kok, bila dia merasa bahagia. Aku akan sangat merasa bahagia bila, dia mau memahamiku.
Cinta itu, tak harus memiliki. Cinta itu ibarat bintang. Terkadang selalu memancarkan cahayanya yang indah dan terkadang tak bersinar. Tapi aku ingin menjadi orang yang dapat membuatnya bahagia, walaupun itu terasa menyakitkan. Dan ingin menjadi bintang yang selalu menemani bulan, walaupun aku tak kan mampu biaskan siar indahku dan dia tak akan lagi bersamaku. Pergi meninggalkan aku dalam kesesakan. Dan atas nama cinta aku akan selalu membuatmu bahagia. Karena cinta itu tak selamanya harus memiliki.

Senin, 24 Oktober 2011

palet yang tertukar

Ku lukis setiap rasa sayang dan cintaku

Di atas cahaya bintang yang indah
Berharap smua itu akan abadi
Dan ku lukis pula stiap kepilauan hati
Di atas hamparan pasir pantai
Berharap smua itu akan abadi

Tapi mengapa yang kurasa bukan semua itu?
Rasa sayang, cinta dan kepiluan hati
Bercampur dan berserakan tak menentu
Hingga membuat perpaduan rasa yang tak enak

Tuhan...
Ku ingin semua berakhir indah
Temukan dan tempatkan smua rasa pada paletnya
Bukan kepiluan hati pada cahaya bintang
Atau rasa sayang dan cinta pada palet pasir pantai



11 Oktober 2009

22:25

Selasa, 18 Oktober 2011

pertanyaan anak kecil ttg bintang

AKU CINTA BINTANG

Kak, liat!!! Disana banyak bintang yach… Menurut kakak bagus nggak?”kataku sambil menunjukkan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa biru. “Yap, bintang-bintang itu emang indah banget. Tapi aku juga punya bintang yang lebih indah dari itu.” tambah Dede. “Masa sih kak?”tanyaku lagi. Dede , kakakku pun hanya menganggukkan kepalanya saja, yang berarti menginyakan lalu berkata “Bintang itu adalah kamu.”

Ku pandangi dan ku nikmati bintang-bintang yang ada di angkasa hingga ku tak mengenal waktu.

Aku memang jatuh cinta pada bintang, yang terbukti semua pernak-pernik ku bernuansa bintang. Aku juga betah banget kalau sudah berada di kolong langit (nama tempat yang kuberikan pada taman buatan ayahku). Tak seorang pun yang mampu memisahkanku dengan bintang-bintang itu. Termasuk sahabatku sendiri. Bintang itu selalu menerangi setiap malam yang kulewati. Andai saja bintang itu selalu ada saat siang hari, pasti dia akan menemaniku seperti halnya pada malam hari.

“Kak, adek tanya dong?” tanyaku tiba-tiba pada kak Dede. Sembari mengusap-usap rambutku, dia berkata “Mau tanya apa dek?”

“Ehmm...coba tebak yach, ukuran bintang itu seberapa?”tanyaku manja. “Wah, ukurannya jauh lebih besar dari bumi yang kita injak ini atau dari yang kamu bayangin, dek?” “Trus kenapa aku nglihatnya kecil dan ku slalu nyanyiin lagu bintang kecil?”tanyaku lagi.

“Adek nglihatnya dari jauh banget ‘kan? Nggak dari deket kan? Maka dari itu bintang terlihat kecil. Coba kalau adek nglihatnya dari angkasa sana, pasti bintang itu ukurannya besar”ungkap kak Dede dengan sabar.

Aku yang mendengar penjelasan dari kakakku hanya menangguk-angguk dan sesekali garuk-garuk kepala tanda ada kebingungan.

Karena kak Dede mengetahui bahwa ku sedikit kebingungan, kak Dede pun mengajakku untuk masuk ke dalam ruangan dan berjanji untuk menceritakan tentang bintang besok hari.

 


Esok hari pun tiba dan seperti biasa, aku bersama kakakku duduk berdua di kolong langit.

“Kak.... janjinya mana? Katanya mau cerita tentang bintang?”kataku.

“Emang kakak janji ya?” “Iyalah.... bo’ong dosa lho. Aku aja kalo bo’ong, Tuhan marah kok..”jawabku.

“Iya adekku sayang. Kakak mau cerita ni...”balasnya. “Bintang itu sebenarnya nggak berbentuk.”

“Ehhh, kakak bo’ong, orang bu guru kalau ngajarin buat bintang itu ada bentuknya kok. Nggak asal-asalan.”protesku. “Gini adek, yang jelas bahwa bintang itu tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan yang namanya awan molekul yang besar. Mungkin adek bingung tentang awan molekul itu apa, makanya adek rajin belajar biar cepet gedhe kayak kakak trus bisa belajar tentang awan molekul dan bentuk bintang itu kayak gimana.”

“Ohhhh gitu ya kak...”balasku.

“Mau dilanjutin nggak ceritanya?”tanya kakakku. Aku pun hanya menganggukkan kepala saja.

Bintang itu merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Nah, bintang juga ada yang bisa menghasilkan cahaya dan nggak bisa menghasilkan cahaya sendiri. Udah gitu, tau nggak dek, kalau matahari itu juga disebut bintang. Keren kan?”cerita kakakku.

Semula posisiku yang duduk tegap, beralih menjadi sandaran di pundak kakakku. Kakakku pun trus melanjutkan ceritanya. “Adek kalau menggambar bintang kan warnanya selalu kuning ya? Padahal bintang itu warnanya macem-macem kayak pelangi, ada warna biru, putih-biru, putih, putih-kuning, kuning, jingga, dan merah. Jadi lain kali adek kalau gambar bintang, warnanya nggak mesti kuning ya. Udah gitu ya dek, kerennya dari bintang itu tampak berkedip lho. Itu dikarenakan adanya faktor jarak dan juga atmosfer bumi. Tapi tidak selamanya bintang tampak berkedip. Ketika kita berada pada daerah dengan suhu yang dingin, maka keadaan molekul udara cenderung lebih stabil. Dengan kondisi atmosfer yang demikian, akan menghasilkan kenampakan bintang yang tak berkedip seperti halnya kenampakan sebuah planet. Untuk mendapatkan kondisi atmosfer yang stabil maka tidak perlu menanti cuaca di rumah kita menjadi dingin. Dengan menggunakan sifat lapisan troposfer (semakin bertambah ketinggian maka suhu semakin dingin) kita bisa melihat bintang-bintang yang tak berkedip di daerah yang lebih tinggi. Gitu dek cerita kakak tentang bintang.”

            Saat kakakku bercerita panjang lebar, aku mulai merasakan kenyamanan pundak kakakku. Itulah yang membuat aku menjadi tertidur. Sampai-sampai saat kakakku keasyikan bercerita, dia tidak tahu kalau aku juga ikut menikmati ceritanya sampai terlelap dalam tidur.