AKU CINTA BINTANG
“Kak, liat!!! Disana banyak bintang yach… Menurut kakak bagus nggak?”kataku sambil menunjukkan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa biru. “Yap, bintang-bintang itu emang indah banget. Tapi aku juga punya bintang yang lebih indah dari itu.” tambah Dede. “Masa sih kak?”tanyaku lagi. Dede , kakakku pun hanya menganggukkan kepalanya saja, yang berarti menginyakan lalu berkata “Bintang itu adalah kamu.”
Ku pandangi dan ku nikmati bintang-bintang yang ada di angkasa hingga ku tak mengenal waktu.
Aku memang jatuh cinta pada bintang, yang terbukti semua pernak-pernik ku bernuansa bintang. Aku juga betah banget kalau sudah berada di kolong langit (nama tempat yang kuberikan pada taman buatan ayahku). Tak seorang pun yang mampu memisahkanku dengan bintang-bintang itu. Termasuk sahabatku sendiri. Bintang itu selalu menerangi setiap malam yang kulewati. Andai saja bintang itu selalu ada saat siang hari, pasti dia akan menemaniku seperti halnya pada malam hari.
“Kak, adek tanya dong?” tanyaku tiba-tiba pada kak Dede. Sembari mengusap-usap rambutku, dia berkata “Mau tanya apa dek?”
“Ehmm...coba tebak yach, ukuran bintang itu seberapa?”tanyaku manja. “Wah, ukurannya jauh lebih besar dari bumi yang kita injak ini atau dari yang kamu bayangin, dek?” “Trus kenapa aku nglihatnya kecil dan ku slalu nyanyiin lagu bintang kecil?”tanyaku lagi.
“Adek nglihatnya dari jauh banget ‘kan? Nggak dari deket kan? Maka dari itu bintang terlihat kecil. Coba kalau adek nglihatnya dari angkasa sana, pasti bintang itu ukurannya besar”ungkap kak Dede dengan sabar.
Aku yang mendengar penjelasan dari kakakku hanya menangguk-angguk dan sesekali garuk-garuk kepala tanda ada kebingungan.
Karena kak Dede mengetahui bahwa ku sedikit kebingungan, kak Dede pun mengajakku untuk masuk ke dalam ruangan dan berjanji untuk menceritakan tentang bintang besok hari.
Esok hari pun tiba dan seperti biasa, aku bersama kakakku duduk berdua di kolong langit.
“Kak.... janjinya mana? Katanya mau cerita tentang bintang?”kataku.
“Emang kakak janji ya?” “Iyalah.... bo’ong dosa lho. Aku aja kalo bo’ong, Tuhan marah kok..”jawabku.
“Iya adekku sayang. Kakak mau cerita ni...”balasnya. “Bintang itu sebenarnya nggak berbentuk.”
“Ehhh, kakak bo’ong, orang bu guru kalau ngajarin buat bintang itu ada bentuknya kok. Nggak asal-asalan.”protesku. “Gini adek, yang jelas bahwa bintang itu tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan yang namanya awan molekul yang besar. Mungkin adek bingung tentang awan molekul itu apa, makanya adek rajin belajar biar cepet gedhe kayak kakak trus bisa belajar tentang awan molekul dan bentuk bintang itu kayak gimana.”
“Ohhhh gitu ya kak...”balasku.
“Mau dilanjutin nggak ceritanya?”tanya kakakku. Aku pun hanya menganggukkan kepala saja.
“Bintang itu merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Nah, bintang juga ada yang bisa menghasilkan cahaya dan nggak bisa menghasilkan cahaya sendiri. Udah gitu, tau nggak dek, kalau matahari itu juga disebut bintang. Keren kan?”cerita kakakku.
Semula posisiku yang duduk tegap, beralih menjadi sandaran di pundak kakakku. Kakakku pun trus melanjutkan ceritanya. “Adek kalau menggambar bintang kan warnanya selalu kuning ya? Padahal bintang itu warnanya macem-macem kayak pelangi, ada warna biru, putih-biru, putih, putih-kuning, kuning, jingga, dan merah. Jadi lain kali adek kalau gambar bintang, warnanya nggak mesti kuning ya. Udah gitu ya dek, kerennya dari bintang itu tampak berkedip lho. Itu dikarenakan adanya faktor jarak dan juga atmosfer bumi. Tapi tidak selamanya bintang tampak berkedip. Ketika kita berada pada daerah dengan suhu yang dingin, maka keadaan molekul udara cenderung lebih stabil. Dengan kondisi atmosfer yang demikian, akan menghasilkan kenampakan bintang yang tak berkedip seperti halnya kenampakan sebuah planet. Untuk mendapatkan kondisi atmosfer yang stabil maka tidak perlu menanti cuaca di rumah kita menjadi dingin. Dengan menggunakan sifat lapisan troposfer (semakin bertambah ketinggian maka suhu semakin dingin) kita bisa melihat bintang-bintang yang tak berkedip di daerah yang lebih tinggi. Gitu dek cerita kakak tentang bintang.”
Saat kakakku bercerita panjang lebar, aku mulai merasakan kenyamanan pundak kakakku. Itulah yang membuat aku menjadi tertidur. Sampai-sampai saat kakakku keasyikan bercerita, dia tidak tahu kalau aku juga ikut menikmati ceritanya sampai terlelap dalam tidur.
0 komentar:
Posting Komentar